Suatu hari saya diminta seorang ikhwan untuk datang ke rumahnya guna membantunya meruqyah salah seorang sepupunya yang kerasukan jin. Mengingat waktu sudah malam (ketika itu selepas maghrib), muncul juga rasa malas untuk membantunya. Walaupun masih di dalam kota Jakarta, namun tetap saja, siapa sih yang suka pergi di malam hari. Malam hari itu waktu untuk bersantai, meregangkan badan dan istirahat, bukan untuk keluar rumah. Akan tetapi, apa boleh buat, ada orang meminta bantuan, masak ditolak. Apalagi saya masih punya kesempatan dan kemampuan untuk itu.
Berangkatlah saya ke TKP. Sesampai di sana, ternyata ikhwan itu dan keluarganya sudah menantikan saya. Namun sayangnya, ‘si pasien’ belum datang. Masih dalam perjalanan, demikian kata ikhwan itu. Setelah menunggu berapa lama, datanglah sebuah mobil kijang. Ternyata itulah yang kami tunggu-tunggu. Akhirnya datang juga ‘si korban’ . Korban pelecehan jin (bukankah orang yang kesurupan itu dilecehkan jin?).
Dibawalah ia ke dalam mushala. Karena ia perempuan, maka kami pun meruqyahnya dari balik hijab/tabir berupa kain. Kami pun siap memulai meruqyah. Saya persilahkan ikhwan itu memulai ruqyah terlebih dahulu, akan tetapi ia malah mempersilahkan saya yang memulai. Saya pun buka mushaf. Tiba-tiba saya teringat ucapan dari seorang ustadz dan dari beberapa buku, katanya surat Ash-Shaaffat itu termasuk surat yang cepat membakar jin.
Saya pun coba membaca surat Ash-Shaaffat. Saya baca taawudz dan basmallah lalu mulai membaca Ash-Shaaffat. Tidak berapa lama, (ternyata benar juga) baru saja saya baca ayat-ayat awal, tiba-tiba.. “Cicing sia! Cicing! (bahasa Sunda artinya: Diam kamu! Diam!) teriakan keras yang menggelegar menggemparkan orang-orang yang ada mushola. Jin yang ada di tubuh perempuan itu mengamuk. Tabir yang membatasi saya dengannya, ia tarik lalu dilemparkannya ke arah saya. Ibu-ibu yang mendampinginya lari kocar-kacir. Mushaf yang ada di tangan ibu-ibu itu dirobeknya.
Gentar rasanya dan ciut juga nyali saya ketika itu. Sebenarnya saya ingin pula bergabung dengan barisan mereka yang lari. Tapi ketika melihat yang kesurupan itu ternyata ABG (anak baru gede), saya urungkan niat saya. Saya dengar dari ikhwan itu, katanya ia baru kelas satu SMP. Dan Anda tahu kan anak SMP? Seangker atau segarang apapun, ya.. masih imut-imut gitu bukan?
Saya membayangkan seandainya yang kesurupan itu siswi SMU atau mahasiswi, atau ibu-ibu, mungkin seram sekali wajahnya. Dan tentunya saya juga tak mungkin diam kalau begitu, bisa jadi ambil tindakan penting. Apa itu? Ambil jurus langkah seribu!
Karena ibu-ibu di situ kocar-kacir, akhirnya bapak-bapak yang ada di situlah yang turun tangan. Mereka pun meringkusnya sedangkan ia terus meronta-ronta. Entah apalagi yang diucapkannya, yang jelas saya yakin itu kata-kata makian dalam bahasa Sunda. Saya pun lanjutkan membaca surat Ash-Shaaffat hingga selesai. Lalu setelah itu giliran ikhwan itu, ia membaca Al-Baqarah, Kami membaca silih berganti sampai hampir larut malam.
Setelah waktu menunjukkan hampir jam dua belas, barulah kami hentikan ruqyah. Sepertinya perempuan itu sudah kelelahan dan sudah siuman. Kami mengetahui kalau ia telah sadar ketika ditanyakan kepadanya nama-nama orang yang ada disekelilingnya. Ia ternyata bisa menyebutkannya dengan lancar.
Alhamdulillah, saya sangat senang, akhirnya bisa pulang. Di pikiran saya sudah terbayang kasur di rumah menanti, memanggil-manggil untuk ditiduri. Tapi sayang, kegembiraan itu harus ditunda dulu. Sebab, keluarga si perempuan meminta saya menemani mereka mengantarkannya ke rumah. Khawatir ia kambuh dan mengamuk lagi di perjalanan, demikian alasan mereka.
Hmm..berat juga rasanya. Saya sebenarnya menolak. Cuma karena salah seorang ibu di situ memelas minta tolong agar saya menemani mereka, saya jadi tidak tega untuk tak membantunya. Akhirnya saya pun menyertai mereka ke rumah perempuan itu di Bogor. Karena sampai di sana telah lewat malam, otomatis, tak mungkin saya pulang malam itu juga. Saya pun tidur di rumah keluarganya.
Esok harinya, ketika seharusnya sudah waktunya pulang, perempuan itu kambuh lagi. Hal itu diketahui dari pandangannya yang jadi tajam ketika melihat. Ia pun ditempatkan di kamar tidurnya, sedangkan saya di luar, di dekat pintu kamarnya. Saya mulai baca Al-Quran dengan suara keras. Selang berapa lama (kira-kira setelah lewat satu jam), terperanjatlah saya, seakan-akan hampir copot jantung ini. Ia keluar dari kamarnya dengan mata melotot, lidah menjulur-julur, merayap dengan meliuk-liukan tubuhnya!!! Astaghfirullah…
Seumur-umur baru sekali itu saya menyaksikan orang merayap bak ular. Panik pun melanda, badan gemetar dan perasaan jadi tidak karuan. Karena, -dan ini yang bikin kesal-tak ada anggota keluarganya yang menjaganya ketika itu. Apa saya harus berhadapan dengannya sendirian? Pada ke mana sih keluarganya? Itu yang ada di pikiran saya. Akan tetapi, alhamdulillah, kepanikan saya sirna. Sebab, ia ternyata merayap bukan ke arah saya, melainkan ke arah dapur yang ada di sebelah kanan saya. Entah mau apa dia dan apa yang akan ia lakukan di sana. Dan sekali lagi, alhamdulillah, yang kesurupan itu anak kelas satu SMP. Coba bayangkan, bagaimana seandainya yang kesurupan itu wanita dewasa, lebih mengerikan tentunya.
Akhirnya, biidznillah, perempuan itu sadar kembali menjelang waktu zhuhur. Di hari itu kondisi si perempuan memang tidak terlalu parah dibandingkan malam harinya. Kalau malam harinya ada ‘pemberontakan’ dan teriakan darinya, sedangkan pagi itu bisa dibilang sedikit kondusif . Sebab tak ada raungan dan jeritan, yang ada hanya gerak-gerik yang sempat membuat bulu kuduk merinding , yaitu “rayapan ular”!.
Setelah makan siang saya pun pamit kepada keluarganya. Saya tinggalkan perempuan itu dalam keadaan yang saya yakini pasti masih ada ‘penghuni’ di tubuhnya. Sebab, ketika saya tinggalkan, sebagaimana yang dikabarkan keluarganya, ia terlihat seperti masih murung dan stress. Dan saya tak tahu, setelah jin Sunda, jin mana lagi yang ada di tubuhnya. Apakah jin Jawa? Batak? Atau jin bule? Tak tahu saya. Bisa jadi berbagai suku ada di situ, karena ‘suku’ ular pun ternyata ada di tubuhnya.
Dari pengalaman di atas saya petik beberapa pelajaran:
1. Hendaknya tenang ketika meruqyah dan jangan seorang diri.
Dibutuhkan ketenangan dan teman ketika meruqyah. Sebab bila muncul reaksi dari jin yang ada di tubuh korban, kemudian yang meruqyah ini panik dan sendirian, bisa kewalahan atau jadi bulan-bulanan jin tersebut. Karena, berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman, tenaga orang yang kerasukan itu sangat kuat. Sampai-sampai pernah lima orang pun kewalahan menaklukannya.
2. Ada beberapa surat dalam Al-Quran yang bisa cepat membakar jin.
Seluruh ayat dan surat dalam Al-Quran memang penyembuh segala sesuatu, termasuk dari kesurupan. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman para ulama, ada ayat-ayat tertentu yang cepat menghasilkan reaksi dari jin, seperti Ash-Shaaffat, Al-Jin, ayat kursi, Al-Mu’awwidzatain (An-Naas dan Al-Falaq) dan ayat-ayat lain yang berhubungan dengan jin dan neraka.
3. Hendaknya bersabar dalam meruqyah.
Ketika meruqyah, tak ada ukuran yang pasti kapan jin itu keluar dari tubuh orang yang dirasukinya. Bisa jadi cuma beberapa menit, jam atau sampai berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan bisa bertahun-tahun. Tergantung (tentunya dengan izin Allah) seberapa kuat jiwa orang tersebut dan seberapa kuat jin yang merasukinya. Karena itu dibutuhkan kesabaran dan jangan tergesa-gesa.
Wallahu a’lam.
Jakarta, 7 Rabi’ulawwal 1432/10 Februari 2011




Memang betul kalau meruqyah jangan sendirian, karena seringkali jin yang merasuk itu mengeluarkan gerakan2 aneh yang kuat dan berbahaya. saya dulu pernah menyaksikan orang kesurupan yang mengeluarkan jurus dewa mabuknya jacky chan, untung ditangani berempat. itu pengalaman waktu masih di Batam Ruqyah center mas anung. kebetulan dulu sering banget ada orang kesurupan disana.
cerita nya lucu, jadi ketawa membacanya..
Insya Allah tetap ada ilmu yg bisa diambil.
Asswrwb..rasany sy dl jg prnh baca klu gak salah bhw tdk akan msk syurga org yg meruqiyah dan yg mnt d ruqiyah, apa benar dmikian ustadz..wass
wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, oh saya bukan ustadz mbak, saya masih belajar kok.
hadits yng mbak tanyakan itu nggak ada. yang ada itu hadits yang tentang 70 ribu umat nabi muhammad, yang masuk surga tanpa hisab dan adzab. nabi sebutkan ciri2 mereka, yaitu:1.tidak MEMINTA diruqyah 2. tidak MEMINTA di kay 3. tidak percaya/melakukan tathayyur 4. dan bertawakkal hanya kepada Allah.(HR.Bukhari:6541 dan Muslim:216)
yang MEMINTA diruqyah itu tidak akan masuk golongan mereka yang masuk surga tanpa hisab&adzab, tapi bukan berarti tidak akan masuk surga. ia bisa masuk surga, tapi harus melalui proses hisab dan adzab dulu di neraka.
mungkin itu mbak, mudah-mudahan jelas..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perlihatkan kepadaku ruqyah kalian, dan tidak apa-apa melakukan ruqyah selama tidak ada unsur syirik” (HR.Muslim)
Ruqyah adalah sunnah Rasulullah yang harus dihidupkan. Ada ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ruqyah dalam hadits tersebut adalah ruqyah selain dengan al-Qur’an atau do’a-do’a yang masyru, sebagimana yang dahulu dilakukan pada masa Jahiliyah (ruqyah syirkiyyah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perlihatkan kepadaku ruqyah kalian, dan tidak apa-apa melakukan ruqyah selama tidak ada unsur syirik” (HR.Muslim)
Ruqyah adalah sunnah Rasulullah yang harus dihidupkan. Ada ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ruqyah dalam hadits 70 ribu umat nabi muhammad, yang masuk surga tanpa hisab dan adzab tersebut adalah ruqyah selain dengan al-Qur’an atau do’a-do’a yang masyru, sebagimana yang dahulu dilakukan pada masa Jahiliyah (ruqyah syirkiyyah)
saya baru denger tuh kalau ada ulama yang berpendapat kalau ruqyah dalam hadits 70 ribu adalah ruqyah yang tidak disyariatkan.
jazakallahu khair atas infonya..
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu !
mohon idzin nyimak !
wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..
silahkan..semoga bermanfaat..