Maukah Anda meniru setan? Kalau mau, makan dan minumlah dengan tangan kiri!
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya. ” (HR. Muslim no. 2019)
Dari hadits ini kita bisa memetik faidah:
1.Terlarangnya makan dan minum dengan tangan kiri.
Makan dan minum dengan tangan kiri adalah perkara yang telah diharamkan dalam islam. Namun, sekarang, hukum ini justru seolah-olah asing di tengah orang-orang yang mengaku muslim. Coba kita lihat di layar kaca, di jalan dan di sekitar kita, bukankah kita masih sering melihat orang yang makan dan minum dengan tangan kiri? Fenomena itu seakan menjadi pemandangan yang sudah lumrah dan akrab dengan kita bukan?
Entah, apa penyebab itu, apakah karena ketidaktahuan atau ketidakmautahuan tentang hukum ini. Dan tak tahu pula, apakah karena lupa dengan hadits di atas atau melupakannya. Atau karena gengsi? Kelihatan “kurang modern” kalau tidak memakai tangan kiri? Terkesan “primitif”? Atau alasan “logis” lainnya? Tak tahu saya. Mudah-mudahan alasannya karena tidak tahu atau lupa. Sebab, kalau alasannya selain dua itu, dikhawatirkan…
Pernah ada seseorang yang makan dengan tangan kiri di samping Rasulullah صلى الله عليه وسلم. “Makanlah dengan tangan kananmu, ” beliau menegurnya. “Aku tidak bisa, ” jawab orang itu. Maka beliau pun bersabda, “Kamu tidak akan pernah bisa! ” Tidak ada yang menghalanginya menggunakan tangan kanan melainkan kesombongan. Akhirnya? Orang itu tak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya! (HR. Muslim no. 2021)
2. Terlarangnya menyerupai setan.
Setan adalah dedengkot kekufuran dan kejahatan dan juga musuh manusia, lantas apakah kita mau meniru dan menyerupainya?
Allah عز وجل berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh. Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. ”(QS. Fathir: 6)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sungguh, syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. ” (QS. An-Nur: 21)
Hadits di atas menunjukkan bahwa menyerupai setan adalah perkara yang diharamkan, dan terlarang dalam islam. Karena itu, Imam An-Nawawi menyebutkan hadits di atas dalam kitabnya Riyadhush Shalihin pada Bab Terlarangnya Menyerupai Setan dan Orang kafir.
Kalau menyerupai dan meniru setan saja terlarang, lantas bagaimana kalau menyatakan diri sebagai pemuja setan? Atau bahkan sebagai setan itu sendiri? Silahkan Anda jawab!
Jakarta, 9 Ramadhan 1432/9 Agustus 2011




Syukron artikelnya..
afwan..