Anda ingin jadi wali Allah? Gampang! Tak perlu kursus dan tak usah semedi segala. Jika Anda mau mempraktekkan dua ayat dalam Al-Quran ini, niscaya Anda menjadi wali Allah. Ayat apa itu? Allah عز وجل berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64. )
Jadi, ada dua langkah yang bisa Anda lakukan untuk menjadi wali Allah:
1. Iman
Syarat pertama untuk menjadi wali Allah adalah beriman.
Lantas, apa yang dimaksud dengan iman? Apakah artinya percaya dan yakin? Percaya dan yakin bahwa Allah adalah satu-satunya ilah yang berhak diibadahi? Dan percaya bahwa para malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul dan hari kiamat benar adanya? Serta meyakini bahwa ada takdir baik maupun buruk dari-Nya? Apakah ini artinya iman? Kalau memang itu yang namanya iman, berarti kita semua bersaudara dengan Firaun! Lho, kok bisa? Bisa. Lihat di sini.
2. Takwa
Syarat kedua untuk menjadi wali Allah adalah bertakwa.
Lantas, apa yang dimaksud dengan takwa? Berkata seorang ulama Tabi’in, Thalq bin Habib:
التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله
“Taqwa adalah engkau mengerjakan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah (ilmu syar’i) karena mengharap pahala dari Allah, dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan siksaan dari Allah.”
Jadi, tidaklah seseorang dikatakan bertakwa sampai ia memenuhi dua perkara:
1. Melakukan perintah-Nya.
Tidak sekedar melakukan perintah saja, melainkan harus terpenuhi dua syarat:
-Berdasarkan ilmu. Artinya, tahu bahwa amalan yang dikerjakan itu adalah perintah-Nya
-Mengharap pahala dari Allah. Artinya, bukan mengharap balasan dan imbalan dari selain-Nya: entah pujian makhluk, hartanya atau perkara dunia lain yang semisalnya.
2. Meninggalkan larangan-Nya.
Tidak sekedar meninggalkan larangan semata, melainkan harus terpenuhi dua syarat:
-Berdasarkan ilmu. Artinya, tahu bahwa perbuatan yang ditinggalkan tersebut merupakan sesuatu yang Allah larang dan Dia benci.
-Takut siksa Allah. Artinya, bukan takut kepada makhluk: entah takut celaannya, intimidasinya atau perkara dunia lain yang semisalnya.
Kalau begitu, siapa yang memiliki dua sifat di atas yaitu iman dan takwa, tak pelak lagi dialah wali Allah. Baginya lah kabar gembira di dunia maupun akhirat. Manisnya iman ia rasakan di dunia, manisnya surga ia rasakan di akhirat. Subhanallah..Adakah keberuntungan yang lebih besar dari ini?
Jakarta, 17 Syawwal 1432/16 September 2011
Referensi: http://www.saaid.net/Minute/m74.htm




assalamu alaikum
semoga kita semua dapat menjadi wali Allah yang sesungguhnya
waalaikumussalam amiiin ya rabbal’alamiin..